Dunia pemrograman menjadi salah satu bagian dari dunia teknologi informasi yang marak berkembang. Berbagai aplikasi baru bermunculan setiap harinya. Perkembangan dunia smartphone yang pesat juga menjadi pemicu maraknya para programer untuk membuat berbagai aplikasi baru di smartphone. Menurut Google, saat ini 1 juta peranti baru diaktifkan setiap harinya.

Tidak hanya di dunia smartphone, saat ini hampir setiap unit bisnis, perusahaan, atau perkantoran membutuhkan berbagai aplikasi berbasis desktop atau web untuk menunjang kinerja mereka. Hal ini menunjukkan kebutuhan dunia akan skill pemrograman sangat luar biasa. Namun sudahkah sumber daya manusia yang ada mencukupi kebutuhan tersebut?

Melihat kondisi tersebut, sebagian orang berpikir untuk mengajarkan pemrograman pada anaknya sejak di bangku sekolah dasar. Akan tetapi yang menjadi tantangannya adalah bagaimana mengajarkan pemrograman untuk anak-anak usia sekolah dasar dengan efektif?

Yang perlu kita ingat bahwa usia anak-anak adalah usia di mana kemampuan berpikir mereka baru sebatas hal-hal yang bersifat nyata atau konkret. Sementara logika berpikir dan komponen-komponen pada pemrograman cenderung bersifat abstrak. Secara umum, anak usia sekolah dasar akan merasa kesulitan untuk belajar tentang looping, variable, data dan lain sebagainya karena semua itu cenderung bersifat abstrak, hanya bisa didengar namun tidak bisa disentuh.

Sepertinya, karena mempertimbangkan kondisi di atas, beberapa bahasa pemrograman untuk anak-anak dibuat berbasis visual atau gambar, agar anak-anak lebih mudah untuk membayangkan apa efek dari kode program yang mereka tuliskan. Salah satu contoh bahasa pemrograman untuk anak-anak adalah Scratch besutan Lifelong Kindergarten Group dari MIT yang dikemas visual dengan tampilan flash.

Scratch sudah cukup membantu bagi anak-anak yang ingin mempelajari pemrograman. Namun penulis berpendapat, meski pemrograman visual sudah cukup membantu namun objeknya masih belum cukup nyata bagi anak-anak. Agar lebih nyata, ada 3 hal yang perlu dimiliki, yaitu: dapat dilihat, didengar dan disentuh. Model pemrograman yang memiliki 3 hal tersebut dapat dijumpai pada pemrograman robot.
Belajar robotika bisa menjadi jembatan bagi anak-anak untuk mengenal dan memasuki dunia pemrograman.

Pemrograman robot akan lebih riil dirasakan oleh anak-anak sehingga mereka akan lebih mudah mengenal logika pada pemrograman. Selain itu, belajar robot memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Jika mereka sudah tertarik untuk belajar dan sudah mengenal logika-logika dasarnya, selanjutnya biarlah mereka menikmati berbagai bahasa pemrograman lainnya.
Semoga bermanfaat… 

Khoirul Umam
Dosen Pengajar Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri

umam@nurulfikri.ac.id

Share