Kita dapat menggunakan teknologi informasi untuk memahami perbedaan penentuan awal puasa 1 Ramadhan tahun ini. Sesuai pemahaman penulis tentang alam semesta dari Al Quran dan ilmu pengetahuan, penulis yakin tidak banyak perbedaan pendapat keberadaan bulan, bumi, dan matahari yang semua beredar sangat teratur pada garis edarnya. Para ahli hisab-rukyat tentu sepakat bahwa ketika matahari terbenam pada Jumat 27 Juni 2014 di Jakarta, bulan sudah ada di atas cakrawala/ufuk barat dengan ketinggian sekitar 0,5 derajat. Lalu mengapa ada perbedaan pendapat tentang awal puasa, Sabtu 28 Juni dan Minggu 29 Juni?

Kita bersyukur karena Allah mengaruniai kita ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga kita dapat mengetahui dengan sangat tepat posisi bulan dan matahari dilihat dari bumi. Salah satu program komputer untuk itu adalah Stellarium, yang dapat dijalankan di sistem operasi komputer Linux atau Windows. Lisensi Stellarium adalah Open Source alias gratis, demikian pula lisensi Linux, sehingga tidak perlu biaya mahal untuk mendapatkannya.

Penggunaannya mudah dan tampilannya menarik, seperti kita melihat alam semesta nyata.
Caranya, setelah Stellarium terpasang di komputer, atur wilayah pengamatan di Jakarta, dan waktu Stellarium ke tanggal 27 Juni 2014 pukul 17.45 WIB. Arahkan pandangan Stellarium ke barat (W), lalu besarkan (zoom), sehingga kita dapat melihat posisi bulan (Moon) saat matahari (Sun) terbenam. Ketika kita klik gambar bulan di sebelah kiri atas matahari, maka muncul penjelasan lengkap di layar kiri atas Stellarium, antara lain bulan berada pada ketinggian (Altitude) sekitar 0 derajat 30 detik, atau 0,5 derajat. Artinya, bulan sudah ada di atas cakrawala pada saat matahari terbenam, tapi belum dapat dilihat dengan mata atau teropong biasa. Lalu bagaimana menentukan awal puasa?

Banyak kriteria dalam penentuan bulan sabit atau rukyatul hilal. Wikipedia (id.wikipedia.org/hisab_dan_rukyat) menunjukkan ada empat kriteria, yaitu rukyatul hilal, wujudul hilal, imkanur rukyat, dan rukyat global. Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan berjalan (kalender) digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Sayangnya, ketentuan usia hilal, tinggi bulan, dan sudut elongasi minimum agar bulan dapat dilihat dengan mata ini masih ada beda pendapat. Karena harus melihat langsung, kita tidak menggunakan Stellarium untuk ini.

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam (moonset after sunset). Jika dua prinsip itu dipenuhi, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat matahari terbenam. Dengan kriteria ini, hari pertama Ramadhan akan jatuh pada Sabtu 28 Juni 2014, karena Stellarium menunjukkan ketinggian bulan 0,5 derajat pada saat matahari terbenam Jumat 27 Juni 2014.

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip: awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3 derajat, atau pada saat bulan terbenam, usia bulan minimum 8 jam dihitung sejak ijtimak. Dengan kriteria ini, awal puasa akan jatuh pada Minggu 29 Juni 2014, karena ketinggian bulan pada saat matahari terbenam Sabtu 28 Juni 2014 lebih dari 11 derajat, sehingga akan terlihat dengan mata atau teropong jika bulan tidak tertutup awan. Dengan kriteria rukyatul-hilal atau imkanur rukyat, tidak mungkin awal puasa jatuh 28 Juni 2014 karena ketinggian bulan pada malam Jumat 27 Juni masih di bawah 2 derajat.

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Menurut pemahaman penulis, perbedaan penentuan hilal atau tanggal 1 Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah hanya perbedaan pendapat manusia biasa dalam memahami agama, disebut khilafiyyah, sehingga kita tidak perlu mempertentangkannya. Khilafiyyah terjadi karena kita tidak bertemu langsung dengan Nabi SAW, sehingga kita tidak bisa mendapatkan fatwa langsung darinya. Salah satu pelajaran agama Islam yang penulis terima, jika ada khilafiyyah atau perbedaan hasil ijtihad, maka keduanya benar dan mendapatkan pahala, insya Allah. Hanya Allah yang tahu mana yang paling benar. Pendapat yang benar diberi nilai dua, dan yang salah diberi nilai satu. Harapan penulis, ulama dan pemerintah membuat satu pilihan yang pasti untuk persatuan, karena kedua khilafiyyah itu benar semua. Wallahu a’lam bish-shawab.

Drs. Rusmanto, MM.
Dosen Pengajar
Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri

Share